FTC, TSP, ARD

      Pengertian From To Chart

Menurut Apple, 1990 menjelaskan From to chart (FTC) merupakan penggambaran tentang berapa total OMH dari suatu bagian aktivitas dalam pabrik menuju aktivitas dalam pabrik lainnya, sehingga dari peta ini dapat dilihat total OMH secara keseluruhan mulai dari gudang bahan baku receiving menuju fabrikasi, assembling sampai terakhir menuju gudang barang jadi (shipping). FTC biasanya berguna apabila barang yang mengalir pada suatu wilayah berjumlah banyak, seperti pada bengkel, kantor atau fasilitas lainnya. Hal ini berguna jika terjadi keterkaitan antara beberapa kegiatan dan jika diinginkan adanya penyusunan kegiatan yang optimum. Keuntungan menggunakan FTC antara lain:

  1. Dapat menganalisis perpindahan bahan.
  2. Dapat merencanakan pola aliran.
  3. Dapat mengukur efisiensi pola aliran.
  4. Dapat menunjukkan ketergantungan suatu aktivitas dengan aktivitas lainnya.
  5. Dapat merencanakan hubungan antara sejumlah produk, bagian, item, dan lainnya.
  6. Dapat menggambarkan jumlah hubungan antara aktivitas dan pergerakan diantaranya.
  7. Dapat memperpendek jarak perjalanan dalam suatu proses.

FTC dibagi menjadi 2 yaitu:

Menurut Sritomo, 2000 menjelaskan perhitungan untuk mencari tabel FTC in-flow dan out-flow dilakukan menggunakan rumus tersendiri. Rumus keduanya berbeda antara satu dengan lainnya. Adapun rumus-rumus yang digunakan untuk perhitungan FTC adalah sebagai berikut:

  1. FTC In Flow

Merupakan koefisien atas ongkos pada FTC dilihat dari ongkos yang masuk ke suatu mesin.

  1. FTC Out Flow

Merupakan koefisien atas ongkos pada FTC dilihat dari ongkos yang keluar dari suatu mesin.

Berdasarkan rumus yang telah disebutkan di atas, maka dilakukan perhitungan FTC untuk in-flow dan out-flow. Berikut ini merupakan FTC yang diperoleh berdasarkan perhitungan OMH yang telah dilakukan.

Tabel 2.1 From To Chart (FTC)

From/To

R

F001

F002

F003

F004

A001

A002

S

Jumlah

R

F001

F002

F003

F004

A001

A002

S

Jumlah

Agar lebih jelas cara memperoleh hasil di atas, maka dibuatlah contoh perhitungan biaya OMH dari receiving ke meja fabrikasi. Perhitungannya dilakukan dengan cara mengalokasikan nilai OMH pada masing-masing departemen. Nilai OMH pada receiving sama dengan nilai OMH pada meja fabrikasi, karena nilai tersebut menunjukkan biaya yang dikeluarkan untuk satu kali melakukan perpindahan barang mulai dari receiving menuju meja fabrikasi, sehingga biaya OMH yang dikeluarkan.

In Flow – Out Flow (IF – OF)

From To Chart dibedakan menjadi dua, yaitu FTC Inflow yang digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang masuk ke suatu departemen dari departemen lainnya dan FTC Outflow yang digunakan untuk mencari koefisien ongkos yang keluar dari suatu departemen ke departemen lainnya. Rumus yang digunakan dalam perhitungan FTC Inflow dan tabel FTC Inflow, yaitu:

Tabel 2.2 FTC Inflow

From/To

R

F001

F002

F003

F004

A001

A002

S

R

F001

F002

F003

F004

A001

A002

S

Agar lebih jelas cara memperoleh hasil di atas, maka dibuatlah contoh perhitungan biaya OMH dari receiving ke meja fabrikasi. Perhitungannya yaitu nilai OMH pada receiving dibagi dengan nilai OMH pada receiving,-, sehingga hasilnya sebesar data jumlah.

Perhitungan FTC in-flow sedah dilaksanakan, selanjutnya melakukan perhitungan untuk FTC out-flow. Berikut ini merupakan tabel out-flow yang dihitung berdasarkan tabel FTC yang telah diperoleh.

 Tabel 2.3 FTC Outflow

From/To

R

F001

F002

F003

F004

A001

A002

S

R

F001

F002

F003

F004

A001

A002

~

S

 

 

2.2       Tabel Skala Prioritas (TSP)

Adalah suatu tabel yang menggambarkan urutan prioritas antara departemen/mesin dalam suatu lintas/layout produksi. Referensi TSP didapat dari perhitungan Outflow-Inflow, dimana prioritas diurutkan berdasarkan harga koefisien ongkosnya. (Apple, 1990)

Tujuan pembuatan TSP antara lain adalah:

  1. Untuk meminimumkan ongkos
  2. Untuk memperkecil jarak handling
  3. Untuk mengoptimalkan layout

 

Tabel 2.4 Tabel Skala Prioritas (TSP)

Departemen/Mesin

Prioritas

I

III

III

R

A002

A001

F001

F001

F002

F002

F003

F003

F004

F004

A001

A001

A002

A002

S

S

Tabel TSP ini selanjutnya akan menjadi acuan bagi pembuatan activity relationship diagram (ARD). Pembuatan ARD harus berdasarkan prioritas yang ada dimasing-masing departemen. Jadi, masing-masing departemen dalam menempatkan departemen yang satu dengan yang lain harus berdasarkan TSP. Jadi, tabel skala prioritas yang dibuat, berdasarkan FTC in flow. Untuk menentukan prioritas mana yang didahulukan, maka pada tabel in flow, dipilih dari koefisien yang paling kecil sampai yang terbesar.

2.3       Activity Relationship Diagram (ARD)

            adalah diagram hubungan antar aktivitas (departemen/mesin) berdasarkan tingkat prioritas kedekatan, sehingga diharapkan ongkos handling minimum. Dasar untuk membuat ARD adalah TSP, jadi yang menempati prioritas pertama pada TSP harus didekatkan letaknya lalu diikuti prioritas berikutnya. Area pada ARD diasumsikan sama, baru pada revisi disesuaikan berdasarkan ARD ini dan areanya sesuai dengan luas dari masing-masing aktivitas yang diperkecil dengan skala tertentu. (Apple, 1990)

Menurut Francis, 1974 menjelaskan Allocation Relationship Diagram berdasarkan tingkat prioritas kedekatan, sehingga diharapkan ongkos handling minimum. Dasar untuk membuat ARD yaitu TSP, jadi yang menempati prioritas pertama pada TSP harus didekatkan letaknya lalu diikuti prioritas berikutnya. Berikut ini adalah skema untuk melihat hubungan dari setiap prioritas.

 

Tabel 2.5 Skema Allocation Relationship Diagram (ARD)

 

IV

III

IV

 

IV

II

I

II

IV

III

I

M

I

III

IV

II

I

II

IV

 

IV

III

IV

 

 

  1. Mesin M harus diikuti oleh prioritas I, II, III  dan seterusnya.
  2. Untuk prioritas yang besar (III) bisa menempati prioritas yang lebih kecil (II atau I) < untuk kondisi selanjutnya.

Tujuan dari ARD yaitu :

  1. Menentukan letak lokasi departemen yang satu dengan departemen yang lain.
  2. Menggambarkan hubungan derajat kepentingan antar kegiatan, dan membantu perencana untuk menghubungkan masing-masing kegiatan secara tepat.

Keuntungan pembuatan ARD adalah :

  1. Pembagian wilayah kegiatan menjadi sistematis.
  2. Memudahkan proses tata letak.
  3. Meminimumkan ruangan yang tidak terpakai.
    1. Menterjemahkan perkiraan area ke dalam suatu peraturan pendahuluan dalam bentuk yang dapat dilihat.
    2. Memberikan perkiraan luas letak.
    3. Menjamin ruang yang cukup.
    4. Dasar bagi perencanaan selanjutnya.

About okesofyan

saya belajar terus menur untuk mencapai impian

Posted on 13/11/2011, in PTLF. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: